MANAJER atau LEADER

Manajer dan leader? apa bedanya sih? sama-sama pemimpin bawahan kok, sama-sama pengambil keputusan terakhir di suatu tim atau perusahaan. Emang beda ya?

Itulah pertanyaan yang sering muncul kalau ada diskusi masalah tentang ini. Dan setelah didalami manajer dan leader itu ternyata berbeda dari segi kedekatan dengan bawahan, seperti penuturan Mas Jaya Setiabudi a.k.a. @JayaYAE di akun twitternya dengan hastag #YEAlead. Hari ini, JuraganEddy ingin kembali menulis ulang untuk disharing ke anda sekalian pada umumnya dan JuraganEddy sendiri pada khususnya. Agar supaya kita selalu ingat, bagaimana cara memimpin yang baik dan bawahan tidak merasa dizolimi/dicurangi. Baiklah kita mulai saja ceritanya.

Perbedaan mendasar antara manajer dengan leader itu adalah kalau manajer itu DIANGKAT dan DITAKUTI. Sedangkan leader itu DIAKUI dan DIIKUTI. Untuk anda yang sekarang sudah punya bawahan/staff karyawan bertanyalah pada diri anda sendiri, sebagai apakah anda dimata karyawan/bawahan anda. Apakah setiap karyawan (pakai kata ini saja ya, daripada bawahan kesannya jelek sekali) saat ketemu dengan anda, mereka menyapa, melempar senyum kepada anda? Atau mereka menundukkan muka, atau mereka pura-pura tidak sama sekali melihat keberadaan anda? kalau jawabannya yang kedua, berarti masih ada yang salah. “TIDAK SOPAN!” – Jangan buru-buru men-judge karyawan anda, marilah mengintrospeksi diri dulu. Berikut penuturan mas Jaya selanjutnya.

Memimpin itu dengan HATI

 

Tularkanlah budaya yang ingin anda bangun dalam perusahaan anda. Memimpin itu  harus disertai contoh tindakan nyata, bukan cuma perintah ke karyawan. Contoh sederhana, ‘karyawan diwajibkan sudah masuk kantor jam 7.30 pagi’. Karyawannya – yang rumahnya jauh dan terjebak macet kalau berangkat dan pulang kantor – sudah jungkir balik berangkat sehabis subuh, dan ternyata telat, sampai kantor jam 8 pagi. Eh dijalan ketemu anda yang notabene sebagai pemimpin, dan telat juga, bukan hal yang tak mungkin bila karyawan anda mencari pembenaran. ‘Ngapain berangkat ontime, bos saja berangkatnya telat’.

Pemimpin harus mau melakukan pekerjaan kotor – bukan hal negatif, tapi maksudnya pemimpin mau turun ke level karyawan, walau hanya sekedar membantu atau memberi arahan langsung ke karyawan. Jangan cuma nongkrong di ruangan kaca dan ber-AC, kayak ikan mahal di akuarium saja, tiap hari dikasih makan berkala, tak mau bersosialisasi. Jadilah pemimpin yang ‘down to earth’ tak perlu malu, wibawa anda tak berkurang kok asal tidak melakukan bercandaan yang berlebihan.

Buatlah SOP untuk semua kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan di perusahaan. Sosialisasikan, ajarkan, dengan baik ke karyawan. Tekankan ke tujuannya, mengapa harus melakukan ini/itu.

Rekrutlah orang yang tepat dan benar, Sehingga tidak perlu dipahat tapi cuma dipoles. Tak perlu di training dan diberitahu terus-terusan tinggal diarahkan saja sudah jalan. Ada 3 langkah cara pendelegasian perintah ke karyawan, yaitu :

  1. Saya melakukan, anda melihat : berilah contoh kepada karyawan dan biarkan mereka melihat apa yang anda lakukan.
  2. Anda melakukan, saya melihat : karyawan mencoba melakukan apa yang anda lakukan tadi dan anda melihat/mengawasi.
  3. Anda melakukan, saya tidak melihat : setelah karyawan benar-benar paham apa yang harus dilakukan, maka beri kepercayaan pada mereka, tak perlu dilihat/diawasi lagi. Tinggal kita minta laporan pertanggungjawaban per jangka waktu tertentu.

Jika suatu ketika karyawan anda masih melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan padahal sudah ditraining, maka hal ini perlu dievaluasi. Cari dimana pola kesalahannya, lalu ubah pola tersebut agar benar. Ajak karyawan anda untuk mengerti ‘MENGAPA harus melakukan seperti ini” bukan hanya sekedar “kamu SEHARUSNYA seperti ini”. Tunjukkan bahwa hati anda ada disitu dan mengayomi karyawan. Jika andapun mengajarkan tanpa keterlibatan hati, maka yang ada hanya instruksi tanpa kesadaran diri dari karyawan untuk berbenah diri.

“Good leader is good team player”. Ajarkan demokrasi yang baik dan benar, jangan sekedar voting. Tim berhak untuk berpendapat dan memberi saran, dan leader yang mengambil keputusan. “Gimana mau demokrasi yang baik, disuruh ngomong, berpendapat aja pada diem, cuma bisik-bisik dibelakang, ujung-ujungnya ngomongin dibelakang”. Orang sungkan ngomong didepan umum biasanya karena bawaan atau karena orang tersebut tidak respek sama anda. Untuk opsi yang kedua, introspeksilah pada diri sendiri, mengapa orang lain tak respek sama anda padahal itu karyawan anda sendiri. Kalau memang tidak mau ngomong/ member saran didepan umum, buatlah kuisioner, suruh mereka mengisi jawaban pertanyaan yang kita buat, tanpa menuliskan nama yang mengisi kuisioner tersebut. Lalu simpulkan dari isi kuisioner tersebut dan musyawarahkan kembali dengan karyawan lalu putuskan.

Biarkan mereka membuat kesalahan selama kesalahan itu tidak fatal. Toh anda juga tidak bisa melakukan kepemimpinan yang 100% benar. Yang penting evaluasilah atas kesalahan yang terjadi, cari polanya dan ubah pola tersebut. Jangan terpeleset di tempat yang sama.

Buatlah peraturan untuk mengukur benar/salah, jangan berdasar “menurut saya…” ujung-ujungnya subjektif, like and dislike.

Memimpin itu dengan HATI-HATI

Anda sebagai pimpinan harus berlaku TEGAS tetapi bukan SADIS, buatlah system untuk meminimalisir kesalahan dan tegakkan aturan dengan system itu. Tujuannya agar perusahaan dapat berjalan dengan semestinya walau tanpa pengawasan anda.

Jika anda mentoleransi kejujuran, itu bagai membiarkan virus berkembang di organisasi anda.

Tak ada kata sempurna, yang ada menyempurnakan. Saat terjadi kesalahan lagi, amatilah polanya, focus pada solusi bukan pada masalahnya. Dan ini adalah saatnya memperbaiki dan menyempurnakan system.

Istilah jepangnya “POKAYOKE” atau alat anti salah. Disempurnakan dengan semangat KAIZEN atau continues improvement.

Apabila ada yang melakukan kesalahan, maka harus diberi hukuman tapi jangan menghukum dengan hati (rasa benci), cukup lakukan karena berdasar aturan.

Control system yang baik dapat mengeliminasi kebocoran, bukan menghilangkan 100%

Contoh : untuk menghindari kebocoran uang, pisahkan kasir dengan akunting, duit tidak boleh menginap di tangan karyawan. Namun jika masih bocor, maka saatnya menegakkan KEADILAN tanpa kebencian. Pecat dengan baik-baik, katakan dengan tenang jangan pakai emosi dan meminta maaflah kepada karyawan tersebut. Duitnya? Kasih waktu seminggu untuk pengembalian uang/laporkan ke pihak berwajib.

HATI-HATI! Mereka juga punya HATI

 

Sebelum menuntut karyawan untuk loyal pada anda, tanyakan dulu ‘apakah anda sudah menanam hati di hati mereka?bukan sekedar gaji saja’. Kunci menumbuhkan loyalitas adalah  “memanusiakan manusia” . Anggap mereka seperti saudara, atau bahkan anak kita. Buat aturan ‘WAJIB  mengenal 1 level dibawahnya” biar ada ikatan batin yang kuat antara atasan dan 1 level kebawah.  minimal harus tahu rumah, nama pasangannya, nama anak dan kondisinya. Bagaimanapun juga masalah pribadi pasti mempengaruhi kinerja karyawan anda. Resiko jadi pemimpin ya harus bisa jadi ‘tong sampah’ mereka. Jika mereka share masalah mereka,disitu hati dan hati berbicara, ikatan emosi dimulai dan tetaplah HATI-HATI!

Berikan apresiasi kejutan atas prestasi mereka. Bonus tak terduga lebih powerfull daripada dibandingkan yang dijanjikan. Saat mereka kena musibah, pastikan anda yang pertama merangkulnya. Jangan itung-itungan dulu, lakukan dengan ketulusan. Sesekali datanglah ke rumah mereka di malam hari, membawa buah tangan, hanya untuk  sekedar say hai, bukan membahas masalah kerjaan.

Ini yang paling penting. PANTANG bagi pengusaha membayar gaji karyawan terlambat!. Artinya anda tidak konsekuen. Owner boleh telat tapi karyawan jangan sampai.

Janganlah gengsi untuk minta maaf, dan maafkan lah yang bisa termaafkan. Pengontrolnya adalah TEGAS! JANGAN bayar mereka DIBAWAH angka kebutuhan mereka, karena pasti mereka akan maling : waktu, fasilitas, barang atau duit. Sampaikan visi dengan bahasa yang membumi, aka masa depan mereka di perusahaan anda. Ajak mereka berjuang bersama. Jika mereka tidak dapat menginderakan masa depan mereka di perusahaan anda, orang-orang terbaikpun akan berpamitan satu-persatu. Pecah misi dan visi menjadi target-target kecil yang dapat diindera dan dipantau secara berkala. Dan rayakan tiap pencapaiannya. Libatkan emosi mereka dalam menjalankan pekerjaan, bukan sekedar menunggu gajian. Ajarkan nilai-nilai biar jiwa mereka bertumbuh. Apa yang saya share semoga jadi afirmasi bagi saya dan anda untuk menjadi pemimpin yang di dicintai bukan yang ditakuti.

Last question, pantaskah mereka loyal terhadap apa yang telah anda tanam? The answers is yours, not mine..

 

Semoga rangkuman materi diatas dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Ditunggu saran dan kritik yang membangunnya dari anda sekalian.

 

 

–  JuraganEddy –


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: